Saturday, September 5, 2009

Happy email dari biindit dan backlinks

Senang, gembira dan sebagainya… ya begitulah suasana hati ini, senang seperti senangnya orang yang berpuasa ketika seteguk air membasahi kerongkongan yang kering sepanjang siang hari yang dilewatinya.

Sabtu 05/09/09 Jam 14.15 mulai buka imel, kubaca dari pertama, kedua... eh rupanya ada imel pemberitahuan dari blogspot bahwa ada komentar baru di blog. Kuklik dan isinya ucapan selamat dari fitri atas dinominasiknnya postingan tentang biindit di blog ini. Trims ya.


Alhamdulillah bisa masuk nominasi Biindit, tapi yang lebih penting bagaimana bisa mengoptimalkan blog ini dan memonetize lebih baik dengan biindit biar bisa meraup rupiah :D. Semangatt… dan let's Biind now!

Kegembiraan hari ini belum selesai sampai disitu saja, ada imel lain yang menarik perhatian. Imel dari paypal. Paypal ngasih tau bahwa account paypalku mendapatkan kiriman $. Ya kiriman dari salah satu kliennya Backlinks. emmm.... Berarti backlinks itu beneran donk.



Ya setelah sekian lama balance di paypal 0, akhirnya terisi juga. Cuma sekarang bagaimana cara mengisinya lebih banyak lagi dan segera me-verifikasi account paypal.

Minat bergabung dengan backlinks? Ayo gabung di backlinks (ref).


Baca Selengkapnya...

Friday, July 17, 2009

Jungkir Balik Optimasi Griyasolo.com

Catatan kali ini tentang usaha optimasi untuk web property griyasolo.com. Sudah sebulan online tapi yang pasang iklan baru hitungan jari itu pun jari di satu tangan. Hiks hiks :(

Evaluate evaluate and evaluate

Bantu mengevaluasi yach!

Kita mulai dari mana ya?
dari mana aja oke! tapi mungkin jadi kurang sistematis, tapi ga apa-apa lah.

Eemmmm.... awalnya konsep website griyasolo ini adalah website sebagai media untuk promosi properti. Orang yang hendak menjual rumah, tanah, info kontrakan dll yang berkaitan dengan property dapat menggunakan griyasolo sebagai media promosi berupa iklan baris yang disediakan secara gratis seratus persen.

Sebenarnya ide ini bukanlah sesuatu yang baru dan fresh, karena tahun-tahun lalu ide iklan baris gratis berbasis website marak sekali bak jamur di musim hujan, akunya aja yang rada telat menangkap peluang.

Lho kok gratis!??.. Ada udang dibalik bakwan (kalo yang ini uenak dong!) batu. Yup.., justru yang dijual adalah "gratis". Kira-kira kalo di mall ada kaos dibagi cuma-cuma alias gratis mau ga? yang mau cuma satu orang apa banyak? Kalo banyak berarti mallnya rame dong. Ya seperti itulah kira-kira maunya. Dengan tawaran pasang iklan gratis diharapkan kunjungan atau traffic ke website griyasolo tinggi sehingga mampu mendongkrak nilai jual iklan banner atau iklan ppc.

Dengan memakai perandai-andaian bagi-bagi kaos gratis di mall tadi, Akan sedikit peminat bila tidak diumumkan. Ya mungkin berapa orang saja, itu pun karena kebetulan ada di mall. coba bandingkan bila info hal ini diumumkan di radio-radio, tiang-tiang listrik dipasangi leaflet, di pasar dipasangi spanduk, di perempatan dipasangi baleho ukuran 5x8 meter. Berapa yang akan datang? tentu lebih banyak bukan? mungkin di sinilah kelemahan yang ada di griyasolo dan disini pula jungkir baliknya (ha ha ha ha ha).

Berikut optimasi yang telah dilakakukan untuk griyasolo? (Mohon Sharingnya)
  • add url di search engine
  • add url di web directory lokal
  • pasang link url di blog/web lain
Untuk tiga langkah ini mampu menempatkan griyasolo di halaman pertama di google dengan kata kunci tertentu, dan nilai page rank 2 (sementara, dan semoga naik terusss), no bad lah.
  • ngirim sms kepada pengiklan di koran (he he he :D)
  • Mulut ke mulut (so conventional hiks)

Dan.... tolong bantu mengoptimasi griyasolo dong!!!!...

Baca Selengkapnya...

Wednesday, July 1, 2009

Noblesse Oblige

Tulisan ini diambil dari buku yang berjudul "Segelas Air Seharga Seluruh Kerajaan" oleh Aminoellah Said, khusus untuk saudaraku yang kemarin kontak aku lewat facebook nanyain buku ini. Bukunya bagus tapi sayang susah untuk mendapatkannya. Barangkali kutipan ini sedikit mengobati kerinduannya akan buku yang satu ini.

Noblesse Oblige

Siapa yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, harus mengabdi lebih banyak. Ojo Dumeh, sergah orang jawa. Kepada siapa. Paling tidak kepada yang didudukinya. Mengabdi lebih banyak, bisa tidak harus berbuat sesuatu. Noblesse Oblige, bisa hanya berupa sikap: Ia harus tahan terhadap godaan privilege. Ia harus keras dan tegas kepada dirinya sendiri. Ia harus yang pertama berani mengalah, wani ngalah luhur wekasane, kutip Ronggowarsito.

Tiga hari sesudah Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, ia pergi ke pasar. Di pundaknya, dipikul bahan-bahan pakaian, dagangan untuk dijual. Umar memergokinya dan bertanya: "Apa yang anda lakukan, sedangkan anda telah menjadi pemimpin besar kaum muslimin". Abu Bakar menjawab: "Kalau aku tidak berjualan, lantas dari mana aku dan keluargaku dapat makan?".

Agar tugas utama tidak terlantar, Umar ada usul, dan untuk seterusnya, seorang khalifah harus dapat uang dari Baitul Maal, secukup untuk makan sekeluarga. Akan tetapi menjelang wafat, Abu Bakar berpesan, menyuruh orang mengambil 8.000 dirham dari harta miliknya untuk dikembalikan ke Baitul Maal. Pemimpin ini selalu merasa khawatir, adakah ia sudah berhak, tidak berlebihan, memperoleh makan dari harta yang diusahakan bersama?

Malangnya, dalam sejarah manusia, tidak semua pemimpin bisa berbuat begitu. Kita pun kadang-kadang juga tidak. Al Maududi menulis buku tentang pelbagai keburukan yang terjadi dalam riwayat para pemimpin Islam. Bahkan konon kesalahan telah dimulai oleh beberapa sahabat Rasulullah: Orang yang pernah menyaksikan, bagaimana sepatutnya kepemimpinan dijalankan. Mereka bukan manusia yang ma'sum: yang terlindung dari berbuat dosa. Simaklah runtuhnya kekuasaan Islam Andalusia di Spanyol (718-1218), setelah 500 tahun.

Al Maududi hanya menyoroti etika kepemimpinan, tentang kekuasaan, sebelum mendapatkan kekuatannya sendiri di dalam organisasi birokrasi. Ia tidak menganalisa latar belakang sosial, ekonomi, sejarah, yang makin merosot. Ia belum menelaah dinamika kekuasaan, ketika kebutuhan-kebutuhan sosial menjadi berubah, dan konflik-konflik baru, semakin timbul.

Zaman Khulafaurrasyidin, ialah zaman ketika kekuasaan hanya bersumber pada kewibawaan seorang tokoh, atau lebih. Sebuah masyarakat menjadi baik, manakala pemimpinnya baik. Dapatkah kita bicara hal yang sama sekarang? Memang, orang masih membahas perlunya "panutan", tingkah pemimpin yang diteladani. Tetapi kenyataannya, banyak hal yang tidak tergantung hanya dari niat baik seseorang, betapapun ia berkuasa, atau berkasta.

Seorang pemimpin perlu mesin. Makin majemuk masyarakat, makin susahlah bergerak, jika hanya mengandalkan teladan, tingkah laku. Perlu komunikasi, kampanye, dan kaki-tangan yang efektif. Dalam perkembangannya, pemimpin sangat tergantung pada kaki-tangan itu. Kebutuhan akan birokrasi, dan birokrasinya suatu kebutuhan. Cita-cita apapun di dalam abad ini, apapun benderanya, tidak cukup hanya dengan menghimbau budi pekerti. Ada aturan berputar, cetak biru, kadang berjalan sendiri. Ada batas, di dalam kekuatan ajaran apapun. Syariat sendiri, tidak selamanya memberi petunjuk yang pasti.

Pemimpin memang harus sarat berilmu. Belajar dari perobahan, dari gejolak zaman. Belajar: ilmu-ilmu yang hanya bersumber dari kehidupan yang nyata. Kalaupun semua menjadi musykil, masih ada yang paling gampang: "Bertanya".


Baca Selengkapnya...