Siapa yang mempunyai kedudukan lebih tinggi, harus mengabdi lebih banyak. Ojo Dumeh, sergah orang jawa. Kepada siapa. Paling tidak kepada yang didudukinya. Mengabdi lebih banyak, bisa tidak harus berbuat sesuatu. Noblesse Oblige, bisa hanya berupa sikap: Ia harus tahan terhadap godaan privilege. Ia harus keras dan tegas kepada dirinya sendiri. Ia harus yang pertama berani mengalah, wani ngalah luhur wekasane, kutip Ronggowarsito.
Tiga hari sesudah Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, ia pergi ke pasar. Di pundaknya, dipikul bahan-bahan pakaian, dagangan untuk dijual. Umar memergokinya dan bertanya: "Apa yang anda lakukan, sedangkan anda telah menjadi pemimpin besar kaum muslimin". Abu Bakar menjawab: "Kalau aku tidak berjualan, lantas dari mana aku dan keluargaku dapat makan?".
Agar tugas utama tidak terlantar, Umar ada usul, dan untuk seterusnya, seorang khalifah harus dapat uang dari Baitul Maal, secukup untuk makan sekeluarga. Akan tetapi menjelang wafat, Abu Bakar berpesan, menyuruh orang mengambil 8.000 dirham dari harta miliknya untuk dikembalikan ke Baitul Maal. Pemimpin ini selalu merasa khawatir, adakah ia sudah berhak, tidak berlebihan, memperoleh makan dari harta yang diusahakan bersama?
Malangnya, dalam sejarah manusia, tidak semua pemimpin bisa berbuat begitu. Kita pun kadang-kadang juga tidak. Al Maududi menulis buku tentang pelbagai keburukan yang terjadi dalam riwayat para pemimpin Islam. Bahkan konon kesalahan telah dimulai oleh beberapa sahabat Rasulullah: Orang yang pernah menyaksikan, bagaimana sepatutnya kepemimpinan dijalankan. Mereka bukan manusia yang ma'sum: yang terlindung dari berbuat dosa. Simaklah runtuhnya kekuasaan Islam Andalusia di Spanyol (718-1218), setelah 500 tahun.
Al Maududi hanya menyoroti etika kepemimpinan, tentang kekuasaan, sebelum mendapatkan kekuatannya sendiri di dalam organisasi birokrasi. Ia tidak menganalisa latar belakang sosial, ekonomi, sejarah, yang makin merosot. Ia belum menelaah dinamika kekuasaan, ketika kebutuhan-kebutuhan sosial menjadi berubah, dan konflik-konflik baru, semakin timbul.
Zaman Khulafaurrasyidin, ialah zaman ketika kekuasaan hanya bersumber pada kewibawaan seorang tokoh, atau lebih. Sebuah masyarakat menjadi baik, manakala pemimpinnya baik. Dapatkah kita bicara hal yang sama sekarang? Memang, orang masih membahas perlunya "panutan", tingkah pemimpin yang diteladani. Tetapi kenyataannya, banyak hal yang tidak tergantung hanya dari niat baik seseorang, betapapun ia berkuasa, atau berkasta.
Seorang pemimpin perlu mesin. Makin majemuk masyarakat, makin susahlah bergerak, jika hanya mengandalkan teladan, tingkah laku. Perlu komunikasi, kampanye, dan kaki-tangan yang efektif. Dalam perkembangannya, pemimpin sangat tergantung pada kaki-tangan itu. Kebutuhan akan birokrasi, dan birokrasinya suatu kebutuhan. Cita-cita apapun di dalam abad ini, apapun benderanya, tidak cukup hanya dengan menghimbau budi pekerti. Ada aturan berputar, cetak biru, kadang berjalan sendiri. Ada batas, di dalam kekuatan ajaran apapun. Syariat sendiri, tidak selamanya memberi petunjuk yang pasti.
Pemimpin memang harus sarat berilmu. Belajar dari perobahan, dari gejolak zaman. Belajar: ilmu-ilmu yang hanya bersumber dari kehidupan yang nyata. Kalaupun semua menjadi musykil, masih ada yang paling gampang: "Bertanya".










